MAHA KARYA HARDIKNAS 2009

MAHA KARYA HARDIKNAS 2009
pembagian hadiah LCT se Kota Metro

Kamis, 27 Januari 2011

Pendidikan inklusi
(Tugas Individu)


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Inklusi
Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Semester Genap 2009
Yang dibimbing oleh Drs.Siswantoro, M.Pd.






DONA IRAWAN
0613053020
Semester VI A























PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UPP METRO
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2009



Resume Pendidikan inklusi
(Tugas Individu)


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Inklusi
Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Semester Genap 2009
Yang dibimbing oleh Drs.Siswantoro, M.Pd.




DONA IRAWAN
0613053020
Semester VI A























PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UPP METRO
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2009


IDENTIFIKASI

Pengertian Identifikasi
Sebagai seorang guru di sekolah dasar, tentu diharapkan memiliki pemahaman dan kepekaan terhadap kondisi masing-masing siswa sebagai muridnya. Perkembangan dan kemajuan belajarnya, yang dapat dideteksi setiap saat selama proses kegiatan pembelajaran di sekolah berlangsung. Di sini peran guru, khususnya guru kelas sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa. Umumnya guru memiliki cacatan atau rekaman tentang perkembangan masing-masing siswa, bagaimana kondisinya dan kebutuhan pendidikan apa yang diperlukan, terlebih untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Identifikasi dalam pengertian ini, dimaksudkan adalah usaha untuk mengenali atau menemukan anak berkebutuhan khusus sesuai dengan ciri-ciri yang ada. Dalam Kamus Kontemporer, (1985 : 921) dijelaskan bahwa yang dimaksud identifikasi adalah (1) pengenalan, (2) penyamaan, dan (3) tanda bukti pengenal, Menemukenali anak-anak berkebutuhan khusus sudah barang tentu membutuhkan perhatian serius. Ada anak-anak yang dengan mudah dapat dikenali sebagai anak berkebutuhan khusus, tetapi ada juga yang membutuhkan pendekatan dan peralatan khusus untuk menentukan, bahwa anak tersebut tergolong anak-berkebutuhan khusus. Anak-anak yang mengalami kelainan fisisk misalnya, dapat dikenali dengan keberadaannya, sebaliknya untuk anak-anak yang mengalami kelainan dalam segi intelektual maupun emosional memerlukan instrument dan alasan yang rasional untuk dapat menentukan keberadaannya.
Pengamatan yang seksama mengenai kondisi dan perkembangan anak sangat diperlukan dalam melakukan identifikasi anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah oleh guru, dan ini dapat dilakukan guru setiap saat. Kendati demikian, untuk dapat memperoleh informasi yang lebih lengkap, maka usaha identifikasi perlu dilakukan dengan berbagai cara, selain melakukan pengamatan secara seksama, perlu juga dilakukan wawancara dengan orangtua ataupun keluarga lainnya. Informasi yang telah diperoleh selanjutnya dapat digunakan untuk menemukenali dan menentukan anak-anak yang berkebutuhan khusus.

RUANG LINGKUP
Identifikasi yang dilakukan untuk menemukenali keberadaan anak-anak berkebutuhan khusus di Sekolah Dasar, berorientasi pada ciri-ciri atau karakteristik ada pada sesorang anak, yang mencakup kondisi fisik, kemampuan intelektual, komunikasi, maupun sosial emosional.
a. Kondisi fisik, ini mencakup keberadaan kondisi fisik secara umum (anggota tubuh) dan kondisi indera seorang anak, baik secara organic maupun fungsional, dalam artian apakah kondisi yang ada mempengaruhi fungsinya atau tidak, misalnya apakah ada kelainan mata yang mempengaruhi fungsi penglihatan.
b. Kemampuan intelektual, dalam konteks ini adalah kemampuan anak untuk melaksanakan tugas-tugas akademik di sekolah. Kesanggupan mengikuti berbagai pelajaran akademik yang diberikan guru,
c. Kemampuan komunikasi, kesanggupan seorang anak dalam memahami dan mengekspresikan gagasannya dalam berinteraksi terhadap lingkungan sekitarnya, baik secara lisan/ucapan maupun tulisan.
d. Sosial emosial, mencakup aktivitas sosial yang dilakukan seorang anak dalam kegiatan interaksinya dengan teman-teman ataupun dengan gurunya serta perilaku yang ditampilkan dalam pergaulan kesehariannya, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan lainnya

TEKNIK IDENTIFIKASI
Pada hakekatnya ada banyak metode atau teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar. Beberapa teknik khusus akan sangat diperlukan untuk menemukenali anak-anak yang berkebutuhan khusus. Hal ini diperlukan, mengingat adanya karakteristik atau ciri-ciri khusus yang ada pada mereka, yang tidak dapat diidentifikasi secara umum.
Namun demikian, pada kesempatan ini hanya akan diuraikan beberapa teknik identifikasi secara umum, yang memungkinkan bagi guru-guru untuk melakukannya sendiri di sekolah, yaitu; observasi; wawancara; tes psikologi; dan tes buatan sendiri.
a. Observasi,
Observasi merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk melakukan identifikasi anak-anak berkebutuhan khusus, yaitu dengan cara mengamati kondisi atau keberadaan anak-anak berkebutuhan khusus yang ada di kelas atau di sekolah secara sistematis. Observasi dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. Secara langsung, dalam arti melakukan observasi secara langsung terhadap obyek atau siswa dalam lingkungan yang wajar, apa adanya dalam aktivitas kesehariannya. Sedang observasi tidak langsung, dilakukan dengan menciptakan kondisi yang diinginkan untuk diobservasi. Sebenarnya apabila dilihat dari kedudukan observer, observasi dapat pula dilakukan secara partisipan dan nonpartisipan. Partisipan dalam artian apabila orang yang melakukan observasi turut mengambil bagian pada situasi yang diobservasi. Sedang nonpartisipan, apabila orang yang melakukan observasi berada di luar situasi yang sedang diobservasi, ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi anak yang diobservasi.
Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa memperoleh data yang lengkap, namun hal ini akan lebih baik dan lebih mudah dilakukan oleh guru-guru di sekolah, dibandingkan dengan teknik lainnya. Melalui observasi ini pula akan diperoleh data individu anak yang lebih lengkap dan utuh baik kondisi fisik maupun psikologisnya. Banyak gejala atau fenomena anak berkebutuhan khusus di sekolah yang dapat diamati oleh guru, yang itu menunjukkan adanya perbedaan atau penyimpangan dari anak-anak pada umumnya. Apabila guru saat observasi mendapati seorang anak yang selalu mendekatkan matanya saat menulis atau membaca, maka dimungkinkan anak tersebut mengalami kelainan fungsi penglihatan. Jika kelainan anak tersebut tidak dapat dikoreksi dengan kacamata, maka dia termasuk pada anak yang berkebutuhan khusus. Untuk mempermudah pelaksanaan observasi dalam upaya identifikasi anak-anak berkebutuhan khusus, guru dapat mempersiapkan lembar observasi sederhana yang dapat dirancang dan dikembangkan berdasarkan karakteristik yang dimiliki anak-anak berkebutuhan khusus.
Contoh untuk ini:
Nama Siswa :........................................
Kelas :...................................................

Aspek Indikator Gejala Catatan
Nampak Tidak nampak
Penglihatan 1. Sering mendekatkan mata saat membaca atau menulis
2. Selalu mencari sumber suara
3. Membutuhkan pertolongan saat mengambil sesuatu

Pendengaran 1. Kesulitan mendengarkan penjelasan guru
2. Selalu mendekatkan telinga saat berkomunikasi
3. Sering menggunakan isyarat saat berkomunikasi
Fisik 1. Mengalami kesulitan dalam berjalan atau bergerak
2. Motorik halusnya kurang saat menulis atau menggambar
3. Kelainan dari sebagian anggota tubuh

Perhatian 1. Tidak dapat memusatkan perhatian
2. Perhatianya berubah-ubah
3. Menyibukkan diri sendiri saat pelajaran
Intelektual 1. Tidak dapat menjawab setiap pertanyaan yang diberikan
2. Jarang mengajukan pertanyaan
3. Pekerjaan akademiknya tidak teratur

Perilaku 1. Sering mengganggu teman
2. Hiperaktif
3. Sering membolos


Format di atas hanya merupakan contoh, yang memungkinkan bagi saudara untuk dapat mengembangkan secara lebih rinci, berkait dengan kepentingan identifikasi anak-anak berkebutuhan khusus.
b. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu teknik untuk memperoleh informasi mengenai keberadaan anak-anak berkebutuhan khusus, dalam upaya melakukan identifikasi. Apabila data atau informasi yang diperoleh melalui observasi kurang memadai, maka guru dapat melakukan wawancara terhadap siswa, orangtua, keluarga, teman sepermainan, atau fihak-fihak lain yang dimungkinkan untuk dapat memberikan informasi tambahan mengenai keberadaan anak tersebut.
Hal ini akan mempermudah bagi guru dalam menfokuskan informasi yang ingin diperoleh. Kendati demikian, saudara juga dapat mengembangkan instrumen sebagai panduan dalam wawancara sesuai dengan tujuan yang lebih spesisif yang ingin diperoleh informasinya, yang mungkin dapat melengkapi data observasi.
c. Tes
Teknik lain yang dapat dilakukan dalam idenditikasi anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar adalah melalui tes yang dibuat sendiri oleh guru. Tes merupakan suatu cara untuk melakukan penilaian yang berupa suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak, yang akan menghasilkan suatu nilai tentang kemampuan atau perilaku anak yang bersangkutan. Bentuk tes berupa suatu tugas yang berisi pertanyaan-pertanyaan atau perintah-perintah yang harus dikerjakan anak, untuk selanjutnya dinilai hasilnya.
Di dalam konteks ini, untuk identifikasi anak berkebutuhan khusus tes dapat dilakukan dalam bentuk perbuatan ataupun tulisan. Dalam bentuk perbuatan, misalnya guru dapat meminta siswa yang diduga mengalami kelainan tertentu untuk melakukan sesuatu yang terkait dengan kemungkinan terjadinya kelainan. Sedang tes tertulis dapat diberikan kepada siswa-siswa yang diduga mengalami kelainan untuk menilai kemampuannya. Dalam hal ini, soal atau pertanyaan-pertanyaan dapat dibuat secara sederhana, sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak. Apabila anak mampu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan usianya, maka materi tugas yang diberikan ditingkatkan sesuai dengan usia di atasnya, sebaliknya bila anak tidak mampu mengerjakan, maka materi tugas di turunkan di bawah usia anak yang bersangkutan. Hal ini dilakukan secara sistematis dan terstruktur.
Melalui tes ini guru akan memperoleh informasi pendukung dalam menafsirkan keberadaan seorang anak, apakah berkebutuhan khusus atau tidak. Untuk itu sangat penting bagi saudara untuk kembali memperhatikan karakteristik anak-anak berkebutuhan khusus, yang telah dibahas pada unit sebelumnya.
d. Tes Psikologi
Salah satu teknik lain yang sangat populer dan sering digunakan dalam upaya identifikasi anak berkebutuhan khusus adalah dengan tes psikologi. Jenis tes ini memiliki kelebihan dibanding dengan tes yang lainnya, karena memiliki akurasi yang lebih baik dibanding tes buatan guru. Untuk melihat tingkat kecerdasan seorang anak, tes psikologi merupakan salah satu instrumen yang lebih obyektif dan validitasnya telah teruji.
Sebenarnya tes psikologi tidak hanya terbatas pada tes kecerdasan saja, namun ada juga jenis tes psikologi yang digunakan untuk melihat aspek kepribadian atau perilaku seseorang. Untuk melihat kecerdasan, ada beberapa jenis tes yang dapat digunakan seperti; Test Stanford-Binet, yaitu tes buatan Binet yang dimodifikasi oleh Stanford University, kemudian Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC), maupun Raven’s Matrices. Demikian pula untuk mengetahui kepribadian, perilaku, atau bakat khusus seseorang. Dari beberapa teknik identifikasi yang diuraikan tersebut, diharapkan saudara akan mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai keberadaan anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah. Untuk menafsirkan dan menentukan apakah seseorang anak mengalami kelainan atau berkebutuhan khusus, tentunya membutuhkan pengetahuan atau wawasan yang lebih luas mengenai keberadaan anak berkebutuhan khusus. Namun yang perlu diperhatikan, bahwa identifikasi merupakan langkah awal yang dilakukan guru dalam memberikan layanan yang sesuai bagi anak-anak berkebutuhan khusus.




ASESMEN

Pengetian Asesmen
Sebelum mencermati pengertian dan aktivitas asesmen, coba saudara perhatikan contoh cerita berikut ini.
Ilustrasi:
Ada seorang guru kelas rendah di suatu sekolah dasar yang mendapati seorang siswanya selalu menghindar untuk berfikir. Siswa tersebut sangat membenci pelajaran matematika, atau hal-hal lain yang ada hubungannya dengan berhitung atau berfikir. Guru mencoba mengamati secara rutin, terhadap perkembangan belajar siswa tersebut, terutama dalam bidang matematika, tapi hasilnya tidak memuaskan. Selanjutnya guru mencoba untuk melakukan tes diagnosis matematik, yang berupa tes prestasi untuk menentukan kemampuan matematika secara khusus. Hasilnya, diketahui bahwa siswa tersebut ternyata mengalami kesulitan dalam matematika penalaran dan pemecahan masalah, sedang matematika dasar tidak mengalami kesulitan.
Dari contoh tersebut, sesungguhnya ada hal yang menarik untuk diperhatikan. Pertama, bahwa di sekolah dasar seringkali ditemukan anak-anak yang berkesulitan belajar atau berkebutuhan khusus. Kedua, guru di sekolah umumnya sangat jarang melakukan asesmen terhadap kondisi-kondisi siswanya, dan Ketiga, program khusus atau remedial terhadap kebutuhan individu masih sangat miskin dilakukan di sekolah. Contoh tersebut juga memberi gambaran betapa pentingnya dilakukan asesemen di sekolah, sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Pengertian asesmen dalam kerangka pendidikan anak berkebutuhan khusus, dimaksudkan sebagai usaha untuk memperoleh informasi yang relevan guna membantu seseorang dalam membuat suatu keputusan. Dalam istilah Bahasa Inggris assessment berarti penilaian terhadap suatu keadaan, penilaian dalam konteks ini adalah evaluasi terhadap kondisi atau keadaan anak-anak berkebutuhan khusus, jadi bukan merupakan penilaian terhadap hasil suatu aktivitas atau kegiatan pembelajaran di sekolah. Walace, G & Larsen (1978:7) menegaskan pula, bahwa asesemen merupakan proses pengumpulan informasi pembelajaran yang relevan. Asesmen merupakan aktivitas yang amat penting dalam proses pembelajaran di sekolah, untuk itu pelaksanaannya harus benar-benar dilakukan secara obyektif dan komprehentif terhadap kondisi dan kebutuhan anak. Sebagai tindak lanjut dari identifikasi, hasil yang diperoleh dari asesemen pendidikan akan bermanfaat bagi guru sebagai panduan dalam dua hal pokok, yaitu merencanakan program dan implementasi program pembelajaran. Untuk itu dalam upaya perencanaan tujuan dan penentuan sasaran pembelajaran, dan strategi pembelajaran yang tepat, dalam asesmen pendidikan anak berkebutuhan khusus sangat diperlukan adanya pengumpulan informasi yang relevan dan komprehensif.

Tujuan Asesmen
Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai terkait dengan dilaksanakan asesmen di sekolah, khususnya bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Terkait dengan waktunya Moh Amin (1995:125) menjelaskan adanya lima tujuan dilaksanakannya asesmen bagi anak berkebutuhan khusus, yaitu (1) menyaring kemampuan anak, yaitu untuk mengetahui kemampuan anak pada setiap aspek, misalnya bagaimana kemampuan bahasa, kognitif, kemampuan gerak, atau penesuaian dirinya, (2) pengklafifikasian, penempatan, dan penentuan program, (3) penentuan arah dan tujuan pendidikan, ini terkait dengan perbedaan klasifikasi berat ringannya kelainan yang disandang seorang anak, yang berdampak pada perbedaan tujuan pendidikannnya, (4) pengembangan program pendidikan individual yang sering dikenal sebagai individualized educational program, yautu suatu program pendidikan yang dirancang khusus secara individu untuk anak-anak berkebutuhan khusus, dan (5) penentuan strategi, lingkungan belajar, dan evalusi pembelajaran.
Selain kelima tujuan di atas, Wallace, G & Larsen, S (1978: 5) mengemu-kakan adanya dua tujuan dalam pelaksanaan asesmen, yaitu (1) untuk mengidentifikasi dan terkadang pemberian label untuk kepentingan administratif masalah belajar yang dialami anak-anak berkebutuhan khusus, dan (2) untuk memperoleh informasi tambahan yang dapat membantu dalam merumuskan tujuan pembelajaran, dan strategi pemberian remedial bagi anak-anak yang diduga berkebutuhan khusus. Dari uraian tujuan di atas, setidaknya ada beberapa hal penting yang perlu digarisbawahi dalam asesmen, yaitu (1) asesmen dilakukan untuk penseleksian anak-anak yang berkebutuhan khusus, (2) asesmen bertujuan pula untuk penempatan siswa, sesuai dengan kemampuannya, (3) untuk merencakan program dan strategi pembelajaran, dan (4) untuk mengevaluasi dan memantau perkembangan belajar siswa. Secara khusus, sesunggungnya tujuan asesmen dapat berorientasi pada keterampilan-keterampilan yang dimiliki oleh seorang anak, baik dalam segi kemampuan akademik ataupun nonakademik. Keterampilan akademik terkait dengan kemampuan anak dalam bidang-bidang scholastik atau matapelajaran yang membutuhkan pemikiran dan penalaran. Sedang keterampilan nonakademik menyangkut kemampuan atau kesanggupan anak dalam bidang-bidang yang tidak berorientasi pada pemikiran dan penalaran.

Langkah Pelaksanaan
Sebagai suatu aktivitas yang sistematik dan berkelanjutan, sudah barangtentu asesmen perlu dilakukan sesuai dengan prosedur yang baik, agar dengan begitu hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Adanya beberap factor yang terkait dengan pelaksanaan asesmen juga harus dipertimbangkan secara seksama. Berikut adalah alur asesmen secara skematik.




Langkah umum pelaksanaan asesmen pendidikan















Sumber: Wallace, G & Larsen, S (1978:95)
Dari skema tersebut, terlihat bahwa tahapan asesmen dilakukan dengan terlebih dahulu merumuskan tujuannya dengan memperhatikan tahapan ruang lingkup materinya. Setelah tujuan ditentukan langkah selanjutnya adalah merumuskan prosedurnya, yang dapat dilakukan melalui tes formal maupun informal untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Dari hasil informasi yang telah diperoleh, selanjutnya diolah dan dianalisis guna menentukan tujuan pembelajaran, dan strateginya dalam pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak. Secara lebih spesifik Mercer & Mercer (1989:38) menjelaskan adanya beberapa langkah yang dilakukan dalam asesmen anak berkebutuhan khusus di sekolah, yaitu:
1. Menentukan cakupan dan tahapan keterampilan yang akan diajarkan. Agar pelaksanaan asesmen dapat dilakukan secara efektif, maka seyogyanya guru terlebih dahulu memahami tahapan kompetensi pembelajaran siswa dalam bidang pembelajaran tertentu.
2. Menetapkan perilaku yang akan diases. Perilaku umum menunjuk pada rentang kompetensi siswa dalam penguasaan materi kurikulum, misalnya pada mata pelajaran bahasa mencakup kompetensi dasar untuk semua aspek bahasa. Sedang yang khusus, mungkin hanya pada aspek membaca saja.
3. Memilih aktivitas evaluasi, guru harus mempertimbangkan aktivitas yang akan dilakukan itu untuk evaluasi dalam rentang kompetensi umum, atau kompetensi khusus . Evaluasi kompetensi umum, lazimnya dilakukan secara periodik (semester), sedang untuk kompetensi khusus sebaiknya dilakukan secara formatif dan berkesinambungan.
4. Pengorganisasian alat evaluasi. Hal ini perlu dilakukan berkenaan dengan evaluasi pendahuluan, yang mencakup; identifikasi masalah, pencatatan bentuk-bentuk kesalahan yang terjadi, dan evaluasi keterampilan-keterampilan tertentu. Setelah evaluasi awal dilakukan, selanjutnya ditentukan tujuan dan strategi pembelajaran, serta implementasi dan pemantuan kemajuan belajar siswa.
5. Pencatatan kinerja siswa. Ada dua hal mengenai kinerja siswa yang harus dicatat guru, yaitu kinerja siswa pada pelaksanaan tugas sehari-hari, dan penguasaan keterampilan secara keseluruhan, yang umumnya dicacat pada laporan kemajuan belajar siswa.
6. Penentuan tujuan pembelajaran khusus untuk jangka pendek dan jangka panjang. Di sini guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran khusus bagi anak dalam jangka pendek secara spesifik.

Langkah-langkah pelaksanaan asesmen sebagaimana diuraikan di atas, secara struktur telah dikembangkan berdasarkan kebutuhan pendidikan anak-anak bekebutuhan pendidikan khusus, sehingga dapat dijadikan panduan bagi guru dalam melakukan asesmen di sekolah.

Teknik Pelaksanaan Asesmen
Terdapat beberapa teknik atau metode yang dapat dilakukan dalam upaya pelaksanaan asesmen untuk anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah (dasar). Beberapa diantara yang dapat dijelaskan di sini adalah melalui observasi, tes formal dan informal, dan wawancara, dengan didukung beberapa instrumen seperti checklist ataupun skala penilaian.
1. Observasi, merupakan pengamatan yang dilakukan secara seksama terhadap aktivitas belajar siswa, seperti cara pelajar, kinerja, perilaku, ataupun kompetensi yang dicapai.
2. Tes formal, sesungguhnya merupakan merupakan suatu bentuk tes yang telah terstandarkan, yang memiliki acuan norma ataupun acuan patokan dengan tolok ukur yang telah ditetapkan. Tes demikian umumnya dikembangkan secara global, oleh para ahli dibidangnya. Dalam konteks asesmen pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus, sesungguhnya kurang cocok untuk dilakukan, jika dilihat dari tujuannya yang sangat spesifik, dan mencakup persoalan-persoalan pendidikan yang unik, yang dihadapi siswa berkebutuhan khusus secara individual.
3. Tes informal. Suatu jenis tes yang sangat bermanfaat dan sangat sesuai untuk memperoleh informasi tentang berbagai hal yang berkenaan dengan kompetensi dan kemajuan belajar anak berkebutuhan khusus. Tes informal umumnya dipersiapkan dan disusun sendiri oleh guru, serta digunakan secara intensif untuk mengetahui kompetensi-kompetensi khusus pada anak. Dalam kaitannya dengan asesmen, ada beberapa bentuk yang sering digunakan, yaitu checklist, tes buatan sendiri, ataupun berupa cloze
4. Wawancara, atau interview untuk memperoleh informasi dengan sasaran utama orangtua, keluarga, guru di sekolah ataupun teman sepermainan.



























PEMBERIAN LAYANAN PENDIDIKAN

Identifikasi Kebutuhan Pendidikan
Langkah awal dalam pemberian layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus di sedolah dasar adalah melakukan identifikasi dan asesmen terhadap kebutuhan pendidikan dari siswa yang bersangkutan. Hal ini sangat penting untuk dilakukan, mengingat kebutuhan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus sangatlah spesifik, dengan berbagai keunikan yang dimiliki. Melalui asesmen permasalahan-permasalahan pendidikan khusus yang dialami anak akan diketahui, dalam bidang apa, dan rentang persoalan yang dihadapinya.
Anak-anak yang mengalami kesulitan dalam aspek berbahasa, tentu akan berbeda program dan strategi pelayanan dengan anak-anak memiliki permasalaham pada aspek matematika. Namun secara lebih spesifik juga mencakup berbagai aspek seperti; aspek persepsi, visual dan auditori; mental; berbicara, kemampuan dan perkembangannya; analisis kata; memahami bacaan; mengeja; menulis; matematika, hitungan, penalaran, cerita; dan aktivitas motorik. Kondisi yang demikian secara spesifik perlu diidentifikasi dan dilakukan asesmen terlebih dahulu, untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya secara obyektif.
Untuk memperoleh informasi yang obyektif guna menentukan kebutuhan dan aspek persoalan khusus yang dihadapi siswa di sekolah dasar, dapat ditempuh langkah-langkah sebagaimana yang telah dibahas pada kajian identifikasi dan asesmen.
1. Observasi, dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kondisi umum dan perkembangan belajar seorang siswa di sekolah.
2. Tes informal dan formal untuk memperoleh informasi mengenai keterampilan-keterampilan bidang tertentu yang mampu atau belum mampu dilakukan oleh seorang siswa.

Dengan melakukan identifikasi dan asesmen terhadap siswa, guru akan dapat mengetahui dan menentukan kondisi permasalahan yang dihadapi anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah. Langkah selanjutnya adalah merencanakan program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya.

Pengembangan Program
Salah satu program pembelajaran yang dirancang untuk anak-anak berkebutuhan khusus adalah program pembelajaran individual, yaitu program yang disusun sesuai dengan kebutuhan individu anak-anak berkebutuhan pendidikan khusus, baik untuk pendidikan jangka pendek atau jangka panjang. Istilah program pembelajaran individual (PPI), merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris, The Individualized Educational Program (IEP), yang menurut Hallahan (1991:25) dalam persiapannya harus merumuskan tingkat kemampuan siswa saat ini, yang memiliki tujuan jangka pendek ataupun jangka panjang. Sedang pmemberian layanan diberikan dengan menyusun rencana, aktivitas kegiatan dan melakukan evaluasi.
Idealnya menurut Moh. Amin (1995:193) semua siswa berkebutuhan khusus yang berkelainan fisik dan/mental dilayani dengan PPI terutama diperuntukkan bagi murid berkelainan pada tingkat sedang dan berat. Hal ini sangat penting dilakukan karena kompleksnya pengembangan PPI itu sendiri. Mengenai program dan pelaksanaannya, amat penting adanya persetujuan dan kesepakatan dengan orangtua, yang menurut Hallahan (1991:30) menyangkut ketentuan-ketentuan; (1) tingkat kemampuan akademik siswa pada saat ini, (2) tujuan tahunan untuk setiap siswa, (3) hubungan antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang, (4) hubungan antara pendidikan khusus dan pelayanan yang diberikan, serta memberikan kesempatan kepada tiap anak yang berhasil untuk turut serta dalam program pendidikan umum, (5) rencana untuk memulai layanan dan mengantisipasi lamanya pelayanan, dan (6) prosedur evaluasi untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan program.
Langkah awal yang harus dilakukan untuk penyelenggaraan program PPI adalah membentuk tim penyusun program, dengan kerja awal melakukan diskusi-diskusi dan menganalisis permasalahan yang dihadapi siswa, untuk selanjutnya dibuatkan program yang sesuai dengan kebutuhannya.
Proses pengembangan PPI dapat dilakukan dengan mengikuti beberapa panduan prosedur teknis, yaitu; (1) mendeskripsikan kompetensi siswa secara rinci pada saat sekarang dalam berbagai bidang pelajaran, misalnya dalam menulis apakah siswa sudah dapat membuat garis tebal/tipis, tegak bersambung, atau lainnya; (2) merumuskan tujuan, baik jangka panjang (tahunan) ataupun tujuan jangka pendek, secara khusus dalam kegiatan pembelajaran. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan tujuan, harus mencakup keterampilan funsional praktis bagi siswa, sesuai dengan perkembangan siswa, serta realistic; (3) menentukan teknik dan alat evaluasi untuk mengetahui kemajuan yang telah dicapai; (4) mengembangkan ranah kurikulum yang akan dibuat atau diprogramkan, serta (5) menetapkan strategi pembelajaran, sesuai dengan penekanan pada ranah kurikulumnya.
Dari beberapa prosedur pengembangan program pembelajaran individual sebagaimana dikemukakan di atas, tentunya para guru di sekolah dasar akan dapat mengembangkan suatu model program pembelajaran individual secara praktis, yang dapat dilakukan oleh guru sesuai dengan kebutuhan pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus di lingkungan sekolah masing-masing.
Berikut ini adalah contoh format untuk program pembelajaran individual bagi anak berkebutuhan khusus;


PROGRAM PEMBELAJARAN INDIVIDUAL
Hari/Tgl/Bl/Th : …………………………………………….
Nama Siswa : …………………………………………….
Alamat : …………………………………………….
Nama Sekolah : …………………………………………….
Kelas : .....................................................................
Bid Kesulitan : ....................................................................
Guru : …………………………………………….
KOMPETENSI SISWA SAAT INI
....................................................................................................
....................................................................................................
KOMPETENSI DASAR YANG HARUS DIKUASAI
....................................................................................................
....................................................................................................
....................................................................................................
No Tujuan Materi pembelajaran Kegiatan pembelajaran Media dan sumber Jenis evaluasi Penanggung jawab




Format Program Pembelajaran Individual tersebut dibuat sebagai contoh, tentunya guru dapat mengembang-kan sesuai dengan kebutuhan, dan kepentingannya jangka pendek maupun jangka panjang. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan model pembelajaran individual, bahwa model haruslah mengandung beberapa unsur utama, yaitu (1) adanya identitas siswa, (2) tingkat kompetensi yang dimiliki siswa saat ini, (3) tujuan jangka panjang dan jangka pendek, (3) materi sesuai ranah kurukulumnya, (4) strategi pembelajaran yang ditetapkan, dan (5) jenis dan alat evaluasi untuk mengukur kemajuan yang dicapai.


Pelaksanaan
Setelah program pembelajaran dibuat, selanjutnya adalah implementasinya dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Dalam hal ini, guru harus mempertimbangkan berbagai aspek dalam pelaksanaannya, yang memungkinkan program dapat berjalan secara efektif. Selain itu, perlu pula dipersiapkan beberapa hal penting yang terkait dengan program, diantaranya:
1. Mencermati tujuan dan sasaran program yang akan dicapai, baik secara umum ataupun khusus berkenaan dengan pembelajaran baik anak berkebutuhan khusus di sekolah.
2. Materi dan lembar kegiatan, yang diperlukan selama pelaksanaan program berlangsung di sekolah. Materi pembelajaran merupakan bagian penting yang harus dipersiapkan, dengan memperhatikan kompetensi yang akan dicapai, serta struktur dan ranah kurikulum yang dikembangkan.
3. Fasilitas dan sumber belajar, yaitu berupa media atau ruang sumber untuk kegiatan pembelajaran. Media haruslah dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung pencapaian tujuan, dan harus dibuat secara kreatif sesuai dengan karakateristik kebutuhan siswa. Sedang ruang sumber merupakan satu kebutuhan pembelajaran untuk anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah umum (SD), yang dapat dijadikan tempat layanan pendidikan khusus.
4. Kalender pembelajaran. Selain memperhatikan kalender pendidikan secara umum secara nasional dan tingkat daerah, kalender pelaksanaan program pembelajaran individual dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dan kondisi lingkungan sekolah masing-masing. Kegiatan dapat dilakukan pada siang hari, atau pada waktu-waktu luang yang memungkinkan program dapat berlangsung.
5. Sebelum pelaksanaan program dilakukan, maka perlu terlebih dahulu dilakukan dengan rapat koordinasi tim yang melibatkan berbagai unsur sekolah, komite dan orang tua siswa yang bersangkutan. Ini dilakukan terutama untuk persiapan dan penentuan agenda kegiatan program.

Dengan mempersiapkan pelaksanaan program dengan sebaik-baiknya, maka kompetensi yang diharapkan untuk mengatasi kesulitan akan lebih mudah dicapai. Selama kegiatan berlangsung, guru bukan hanya berperan sebagai pengajar, lebih dari itu adalah sebagai fasilitator dan motivator dalam pelaksanaan program. Kegiatan juga harus dimonitor dan dievaluasi setiap saat untuk melihat perkembangan atau kemajuan yang dicapai siswa, melalui observasi ataupun tes. Secara periodic dapat dilakukan tes informal guna memberikan umpan balikan dalam pelaksanaan program yang lebih baik.


Evaluasi
Evaluasi diberikan pada setiap akhir kegiatan pembelajaran atau dalam periode waktu tertentu dalam bentuk tes informal maupun tes formal. Hal ini dilakukan untuk mengukur tingkat kemajuan dan prestasi belajar yang telah dicapai siswa. Jenisnya berupa tes tertulis, lisan ataupun perbuatan yang merupakan rangkaian penyelesaian tugas-tugas pembelajaran yang disampaiakan dalam kegiatan pembelajaran.
Untuk anak-anak berkebutuhan khusus, sesungguhnya evaluasi dapat dilakukan dengan portofolio, melalui serangkaian kegiatan atau tugas-tugas yang telah dilakukan atau dibuat siswa. Aktivitas atau pekerjaan anak selama kegiatan pembelajaran yang mencerminkan performans anak selama kegiatan menjadi dasar penilaian.

sastra lisan lampung

SASTRA LISAN LAMPUNG
(Tugas Kelompok)

Dosen Pembimbing : Dra. Yulina H.
Mata Kuliah : Pendidikan Bahasa Daerah Lampung


Oleh:
Nama NPM
1. Dona Irawan
2. Aslina 06130053020
06130053011
Semester/Kelas: VI/A
Kelompok V






PROGRAM STUDI S-1 PGSD
UPP METRO
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2009

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah Yang Maha Mulia atas segala pemberian, rahmat, dan bimbingan-Nya. Sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan resume ini, hanya kepada-Nya lah penulis berharap.

Penulisan resume yang berjudul ” Sastra Lisan Bahasa Lampung” ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucap terima kasih kepada:
1. Dra. Hj. Yulina H. selaku dosen pembimbing mata kuliah Bahasa Daerah Lampung.
2. Teman-teman S-1 PGSD angkatan 2006, atas dukungan dan motivasi yang langsung-tidak langsung membantu penyusunan resume ini.
Penulis menyadari dalam penulisan resume ini masih terdapat banyak kekurangan. Maka, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan karya ilmiah yang akan datang. Atas saran dan kritik yang diberikan, penulis ucapkan terima kasih.

Semoga resume yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca.



Metro, 15 Februari 2009
Tim Penyusun

SASTRA LISAN LAMPUNG


Sastra lisan adalah sastra yang hidup secara lisan, yang tersebar dalam bentuk tidak tertulis, disampaikan dengan bahasa lisan. Sastra lisan Lampung merupakan milik kolektif etnis Lampung dan bersifat anonim. Sastra itu banyak tersebar di masyarakat dan merupakan bagian yang sangat penting dari budaya etnis Lampung.
I. Jenis Sastra Lisan Lampung
Sastra lisan Lampung dapat dibedakan menjadi empat macam, yakni:
A. Persahabatan
B. Teka-teki
C. Mantra
D. Puisi
II. Fungsi Sastra Lisan Lampung
Setiap jenis sastra lisan Lampung memiliki fungsi yang berbeda. Akan tetapi secara umum, sastra lisan dalam kehidupan etnis Lampung memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:
1. Pengungkap alam pikiran, sikap, dan nilai-nilai kebudayaan masyarakat Lampung.
2. Penyampian gagasan-gagasan yang mendukung pembangunan manusia seutuhnya.
3. Pemahaman untuk memahami, mencintai, dan membina kehidupan dengan baik.
4. Pemupuk persatuan dan saling pengertian antarsesama.
5. Penunjang pengembangan bahasa dan kebudayaan Lampung.
6. Penunjang perkembangan bahasa dan sastra Indonesia.
III. Cara Penyebaran Sastra Lisan Lampung
Pada zaman dahulu, umumnya, sastra lisan Lampung disebarkan dari mulut ke mulut pada suasana atau kegiatan berikut:
1. Pada saat bersantai.
2. Pada saat mengerjakan kerajinan tangan (tapis, menyulam dan menganyam).
3. Pada saat beramai-ramai bekerja di kebun atau sawah.
4. Pada saaat upacara penyambutan tamu adat.
5. Pada saat upacara jejuluk (gelar sebelum nikah, diberikan bersamaan dengan pememberian nama) atau adek (gelar adat, diberikan pada saaat upacara pernikahan).
6. Pada saat acara muda-mudi
7. Pada saat berlangsung acara cangget “tarian adat”
8. Ketika berlangsungnya acara pelepasan mempelai.
Pada saat ini, sastra lisan Lampung sudah mulai disebarkan melalui media massa,. Sebagaian besar sekolah jenjang pendidikan dasar yang ada di Propinsi Lampung telah mengajarkan bahasa dan sastra lisan Lampung untuk mengisi muatan lokal.
A Persahabatan
Yang dimaksud persahabatan dalam sastra lisan Lampung adalah cerita rakyat. Cerita rakyat adalah suatu cerita yang pada dasarnya disampaikan secara lisan. Peristiwayang diungkapkan pun adalah peristiwa yang dianggap pernah terjadi pada masa lalu atau merupakan suatu kreasi semata yang di dorong oleh keinginan untuk menyampaikan pesan atau amanat tertentu, atau merupakan suatu upaya untuk memberi atau mendapat kan hiburan.
Masyarakat etnis Lampung mempunyai mempunyai banyak cerita yang berbentuk prosa. Cerita itu dapat digolongkan menjadi enam jenis, yaitu:
1. Epos
Epos adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Latin yang berarti “cerita kepahlawanan” atau wiracerita”. Epos mengungkapkan dan bertolak dari suatu realitas. Isinya menyangkut suatu peristiwa yang benar-benar terjadi atau diyakini sebagai suatu kebenaran yang pernah berlangsung pada masa silam.


2. Sage
Sage adalah cerita yang berdasarkan atas peristiwa sejarah yang telah bercampur dengan fantasi.
3. Fabel
Fabel adalah dongeng yang menggambarkan watak atau budi manusia. Para pelakucerita adalah binatang, dan isinya banyak mengandung pelajaran yang berguna bagi manusia.
4. Legenda
Legenda adalah cerita rakyat yang berkenaan dengan peristiwa sejarah.
5. Mite
Mite adalah dongeng yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap makhluk halus (dewa-dewi, peri, atau jin), binatang, atau tumbuh-tumbuhan.
6. Fiksi
Fiksi adalah cerita rekaan, cerita yang hanya berdasarkan atas khayalan atau pikiran pengarang, tidak berdasarkan atas kenyataan.
B Teka-teki
1. Pengertian
Teka-teki adalah soal yang dikemukakan secara samar-samar, biasanya untuk permainan atau mengasah pikiran. Dalam kehidupan etnis Lampung, teka-teki disebut dengan istilah seganing.
2. Fungsi
Teka-teki memiliki fungsi sebagai berikut:
a. media untuk meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap kebudayaan daerah
b. media pengasah pikiran
c. pengisi waktu luang/bersantai
d. hiburan untuk menghilangkan kejenuhan
e. pengisi acara dalam pertemuan muda-mudi
f. media untuk menambah wawasan


3. Bentuk dan contoh teka-teki
Umumnya teka-teki berupa kalimat yang berisi informasi mengenai ciri-ciri jawaban atau petunjuk untuk menebak. Di samping itu, ada juga teka-teki berupa kalimat yang tersusun berirama seperti pantun.
Contohnya:
a. (O) : Ngemik enap layen punyeu, bepayung layen rajo. Nyokidah?
(I) : Bersisik bukan ikan, berpayung bukan raja. Apa itu?
Jawabannya: (O) nanas (I) nenas
b. (O) : Mengan sekalei, betteng betahhun-tahhun. Nyokidah?
(I) : Makan sekali, kenyang bertahun-tahun. Apa itu?
Jawabannya: (O) lunan (I) bantal
c. (O) : Jinnono agreng, munnei-kemunneian jadei andak. Nyokidah?
(I) : Semula hitam, lama-kelamaan menjadi putih. Apakah itu?
Jawaban: (O) buwek (I) rambut
d. (O) : Ulai matei pandai ngudut. Nyokidah?
(I) : Ular mati bisa merokok. Apakah itu?
Jawaban: (O) ubat nyinnyik (I) obat nyamuk
e. (O) : Induino dipusau-pusau, anakno diiyek-iyek. Nyokidah?
(I) : Ibunya dielus-elus, anaknya diinjak-injak. Apakah itu?
Jawaban: (O) ijan (I) tangga
C Mantra
1. Pengertian dan Fungsi Mantra
Mantra adalah perkataan atau ucapan yang dapat mendatangkan daya gaib, seperti dapat menyembuhkan, dapat mendatangkan celaka, dan seterusnya. Dalam kehidupan etnis Lampung, mantra dikenal dengan istilah memmang. Nama memmang bermacam-macam: ada yang disebut dengan istilah asihan, jappei.
Mantra dapat digunakan untuk:
a. memperkuat mental dan rasa percaya diri
b. mengusir roh jahat, misalnya kesurupan, yang sering mengganggu kehidupan manusia
c. mengobati orang yang sakit
d. mengalahkan kekuatan alam sekitar, misalnya menjinakkan binatang buas
e. “menundukkan” hati seseorang.
2. Bentuk dan Kegunaan Mantra
Umumnya, mantra berbentuk frasa (kelompok kata) atau berbentuk kalimat. Frasa atau kalimat itu ada yang trsusun berirama seperti pantun. Contoh-contoh beserta kegunaan mantra dapat dilihat pada uraian berikut ini.
a. Mantra untuk menguji kesetiaan seseorang
Kain andak sulam setero. Ki temmen sayang di nyak, pusau pudak jamo dado. Artinya (Kain putih bersulam sutera. Jika benar sayang pada saya, usap muka dan dada)
b. Mantra pada saat mandi
Kutimbuk wai bungo, milei di kanan kirei. Nagrat segalo cello, nyak geggeh bidodarei. Artinya (Kusiram air bertabur bunga, mengalir di kanan kiri. Hilang segala cela, saya seperti bidadari.)
c. Mantra pada saat berpakaian
Bulung pandan di pinggir wai, gisok dibileng puyu. Cutik dandan kupakai, keterimo di tubuh. Artinya (Daun pandan di tepi sungai, sering didatangi burung puyuh. Sedikit perhiasan ku pakai, serasi dengan tubuh).
d. Mantra pada saat duduk di tengah orang ramai
Jeng kejakjeng, di lem seribeu sattep, nyak sayan sai mejjeng di lem mato atei umat Nabi Muhammad. Artinya (Duduk-duduk, di antara seribu yang duduk saya sendiri yang menjadi pusat perhatian umat Nabi Muhammad).
D Puisi
1. Pengertian dan Struktur Fisik Puisi
Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara iamjinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batin.
Struktur fisik puisi terdiri atas diksi, pengimajinasian, kata konkret, majas, versifikasi ( rima, ritma, dan metrum), dan tipografi puisi. Struktur batin puisi terdiri atas tema, nada, perasaan, dan amanat. Kedua struktur itu terjalin dan terkombinasi secara utuh yang membentuk dan memungkinkan sebuah puisi memantulkan makna, keindahan, dan imajinasi bagi penikmatnya. Dibandingkan dengan bentuk karya satra yang lain, bahasa puisi lebih bersifat konotatif. Bahasanya lebih banyak memiliki kemungkinan makna.
2. Jenis Puisi
a. Paradinei
istilah paradinei ini dikenal di lingkunagn masyarakat Lampung beardialek O. Puisi ini digunakan dalam upacara penyambutan tamu pada saat berlangsungnya pesta pernikahan secara adat.
Pada saat berlangsungnya pesta pernikahan secara adat, sebelum rombongan tamu menginjakkan kakinya di kediaman tuan rumah, mereka, dihadang oleh pihak tuan rumah. Acara penghadangan ini dikenal dengan nama nebbak appeng yang bermakna menutup gapura. Dalam acara penghadangan ini digunakan sastra lisan jenis paradinei.
1) Bentuk dan Isi Paradinei
Sastra lisan ini terdiri atas sejumlah bait yang bersajak. Akan tetapi jumlah baris setiap bait tidak harus sama. Paradinei diucapkan oleh juru bicara masing-masing pihak, baik phak tamu maupun pihak tuan rumah. Di kiri kanan juru bicara terdapat dua orang laki-laki berpakaian adat yang dikenal dengan istilah uleubalang.
Upacara ini mencerminkan bahwa masyarakat Lampung dalam bertindak prlu mendengarkan keterangan dari pihak yang berpengaruh terhadap orang banyak (bersangkutan).
2) Fungsi Paradinei
Sastra ini memiliki beberapa fungsi sebagai berikut: pertama, sebagai media tanya jawab pada saat berlangsungnya upacara penyambutan tamu. Kedua, sebagai media untuk melestarikan bahasa dan sastra Lampung. Ketiga, sebagai media untuk mendidik masyarakat lampung agar mau menghargai sastra daerah.
b. Pepaccogr
Pepaccogr adalah nasehat atau pesan-pesan yang disampaikan dalam bentuk puisi setelah acara pemberian gelar.
1) Bentuk dan Isi Pepaccogr
pepaccogr terdiri atas sejumlah bait dan setiap bait terdiri atas empat atau enam baris. Jumlah bait suatu pepaccogr tidak ada ketentuan yang mutlak. Jumlah bait itu bergantung pada sedikit atau banyaknya pesan yang disampaikan.
Jika dilihat dari sistem globalnya, pepaccogr dapat digolongkan ke dalam puisi tradisional berbentuk syair. Pepaccogr tidak mempunyai sampiran, semua baris dalam setiap bait mengandung isi. Pola sajak akhir (rima) pepaccogr tidak tetap, ada yang berpola ab/ab dan ada pula yang berpola abc/abc.
Pepaccogr berisi pesan-pesan atau nasihat-nasihat untuk yang diberi gelar. Secara umum, pesan-pesan atau nasihat-nasihat itu berkenaan dengan kehidupan berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan beragama.
2) Fungsi Pepaccogr
Pepaccogr memiliki fungsi sebagai berikut: pertama, sebagai media penyampaian pesan atau amanat untuk kedua mempelai dalam upacara pesta pernikahan. Kedua, sebagai media untuk melestarikan bahasa dan sastra Lampung.



c. Pattun/Adi-adi
Pattun/adi-adi merupakan salah satu jenis sastra lisan Lampung yang berbentuk puisi. Puisi jenis pattun/adi-adi dikalangan etnis Lampung lazim digunakan dalam acara-acara yang sifatnya untuk bersukaria, seperti dalam acara muda-mudi yang disebut dengan istilah jagodamar. Di samping itu, di lingkungan masyarakat Lampung Pepadun, pattun sering pula dihunakan untuk melengkapi acara cangget “tarian adat”.
1) Bentuk dan Isi Pattun/Adi-Adi
Pattun/adi-adi terdiri atas bait-bait yang bersajak. Masing-masing bait terdiri atas empat baris. Dalam bait-bait pattun/adi-adi ada yang merupakan bait pertama dan kedua merupakan sampiran, baris ketiga dan keempat merupakan isi. Akan tetapi ada pula bait yang tidak mempunyai sampiran, semua baris dalam satu bait merupakan isi. Isi pattun/adi-adi bermacam-macam. Secara umum, isinya berupa ungkapan perasaan, harapan, atau humor.
2) Fungsi Pattun/Adi-Adi
Pattun/adi-adi dalam kehidupan masyarakat Lampung memiliki beberapa fungsi, yaitu:
a) sebagai media pengungkapan isi hati kepada seseorang
b) sebagai alat penghibur pada suasana bersantai
c) sebagai pelengkap acara cangget
d. Bebandung
Bebandung adalah salah satu jenis sastra lisan Lampung berbentuk puisi yang berisi petuah-petuah atau ajaran yang berkenaan denngan agama Islam. Bebandung lazim digunakan untuk melengkapi acara cangget, dalam pertemua-pertemua resmi lainnya, meninabobokkan anak, atau untuk didengar sendiri sebagai pengisi waktu luang (bersantai). Pengungkapannya dengan cara didendangkan.


1) Bentuk dan Isi Bebandung
Bebandung terdiri atas sejumlah bait yang masing-masing bait memiliki sajak. Pola sajaknya tidak tetap, pola sajak bait yang satu tidak harus sama dengan pola sajak beris berikutnya. Hubungan antarbait dalam sebuah bebandung ada yang menunjukkan hubungan berkait, yakni baris terakhir suatu bait dijadikan baris pertama bait berikutnya dan ada pula yang tidak berkait.
Ditinjau dari sudut isinya, bebandung dapat digolongkan ke dalam puisi tradisional berbentuk syair dan menurut pola persajakkannya, bebandung dapat disamakan dengan pantun.
2) Fungsi Bebandung
Bebandung memiliki beberapa fungsi sebagai berikut; pertama, sebagai religius. Kedua, sebagai media untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian Lampung. Ketiga, sebagai media untuk menyaring kebudayaan asing, yang sudah menggerogoti budaya tradisional.
e. Ringget
Ringget adalah salah satu jenis sastra lisan Lampung yang berbentuk puisi, yang lazim digunakkan sebagai (1) pengantar acara adat, (2) pelengkap acacra pelepasan pengantin wanita ke tempat pengantin pria, (3) pelengkap acara cangget, (4) pelengkap acara muda-mudi, (5) senandung pada saat meninabobokkan anak, dan (6) pengisi waktu bersantai.
1) Bentuk dan Isi Ringget
Ringget terdiri atas bait-bait yang bersajak. Akan tetapi, pola sajak akhir setiap bait tidak harus sama. Demikian pula jumlah baris pada setiap bait tidak selalu sama.
Ringget tidak bersampiran, semua baris mengandung isi.isinya bermacam-macam, ada yang berisi cerita dan ada pula yang berisi nasihat (bersifat didaktis). Sedikit atau banyaknya bait bergantung pada sedikit atau banyaknya sesuatu yang dikemukakan.
2) Fungsi Ringget
Ringget memiliki fungsi sebagai media untuk (1) menyampaikan nasihat kepada masyarakat, (2) menghibur, baik hiburan untuk orang lain maupun hiburan untuk diri sendiri, (3) menyampaikan cerita, dan (4) meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian daerah.

PEMILIK AKUN INI

Rabu, 18 Maret 2009

budi PekERti

Akhir-akhir ini tindakan tanpa tata krama bahkan tindakan di luar susila cenderung menjadi hal yang biasa. Tawuran pelajar, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan terlarang, perkosaan, pencabulan, pencurian, pembunuhan, penculikan, penjarahan, perampokan, perampasan, penodongan, dan tindakan-tindakan sejenisnya setiap hari menghiasi surat kabar dan televisi. Pelaku tindakan asusila di atas tidak hanya terbatas pada para remaja, tetapi tidak sedikit kasus-kasus kejahatan semacam itu dilakukan orang tua, bahkan sudah banyak anak-anak di bawah umur yang terlibat dalam kasus-kasus seperti di atas. Kondisi yang demikian mencerminkan lunturnya nilai-nilai luhur budaya bangsa kita. Apabila tidak segera diadakan kurasi, dapat dibayangkan bagaimana kondisi bangsa kita di tahun-tahun mendatang. Salah satu bentuk kurasi yang perlu kita dukung adalah pemunculan kembali istilah pendidikan budi pekerti. Dengan munculnya kembali istilah tersebut, kita semakin yakin bahwa pendidikan budi pekerti akan diimplementasikan lagi. Memberikan pendidikan budi pekerti kepada anak berarti melakukan kurasi terhadap berbagai penyakit masyarakat yang akhir-akhir ini cenderung mendomiasi kejadian. Dengan demikian, tidak dapat ditawar lagi bahwa penanaman budi pekerti luhur itu harus segera terwujud agar masyarakat kita tidak terlalu lama terbelenggu dalam kondisi yang serba cheos.
Penanaman nilai budi pekerti luhur itu sendiri harus berjalan terpadu dan dimulai sejak anak usia dini. Keluarga mempunyai peranan yang sangat penting untuk menanamkan budi pekerti luhur ini. Sejak kecil seharusnya anak sudah dibiasakan dengan perilaku-perilaku yang mencerminkan budi pekerti luhur di dalam keluarga. Tidak hanya itu, setiap tindakan dan perkataan anak seharusnya selalu dalam monitor orang tuanya sampai orang tua betul-betul mantap bahwa anaknya sudah sulit untuk terpengaruh dari hal-hal negatif.
Meskipun di dalam lingkungan keluarga sudah dilakukan pendidikan/pembiasaan berbudi pekerti luhur, belum tentu anak dapat melewati lingkungan pergaulan tanpa pengaruh negatif. Lingkungan pergaulan punya pengaruh yang sangat kuat bagi anak-anak. Sehingga, anak yang mendapat pendidikan budi pekerti dengan baik sekali pun dapat dengan mudah terbawa ke dalam perilaku yang dur, angkara, murka, atau nista.
Dengan demikian, lingkungan tetap menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap terciptanya perilaku-perilaku anak yang menyimpang dari kesusilaan. Oleh karena itu, sekolah sebagai penyelenggara pendidikan yang mendidik anak-anak seusia merupakan lembaga yang paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti luhur. Hal ini penting dilakukan mengingat besarnya pengaruh lingkungan terhadap pola perilaku anak pada saat ini dapat dikatakan sudah sulit dikendalikan.
Penanaman budi pekerti luhur sangat perlu dimunculkan kembali dan segera diterapkan lewat jalur pendidikan formal atau sekolah. Di dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi yang akan diterapkan mulai tahun 2004, sudah termuat Kurikulum Pendidikan Budi Pekerti. Karena pendidikan budi pekerti belum merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri, pelaksanaannya masih diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sesuai, yaitu mata pelajaran Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, atau mata pelajaran lain yang sesuai, misalnya mata pelajaran Bahasa Jawa
Pegintegrasian pendidikan budi pekerti sangat mungkin dimasukkan ke dalam mata pelajaran Pendidikan Agama maupun Pendidikan Kewarganegaraan dan hal ini sesungguhnya sudah dilaksanakan namun hasilnya yang belum sesuai dengan apa yang diharapkan.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, budi pekerti diterjemahkan sebagai tingkah laku atau perangai, Depdikbud (1995: 150).
Di dalam bahasa aslinya, Sansekerta, kata budi berasal dari kata akar budh, kata kerja yang berarti sadar, bangun, atau bangkit secara kejiwaan. Jadi, budi adalah penyadar, pembangun, atau pembangkit atau budi adalah ide-ide. Pekerti berasal dari kata akar kr yang berarti bekerja, berlaku, atau bertindak secara keragaan. Dengan demikian, pekerti adalah tindakan-tindakan. Meskipun budi dan pekerti itu dapat dibedakan, namun keduanya tidak dapat dipisahkan. Wajah kita gambaran hati kita, begitulah apabila diungkapkan. Di dalam budaya Jawa dinyatakan Lair iku utusaning batin. Rohani dan jasmani saling berpadu dan menjadi satu kesatuan. Raga kita ini adalah jasmani yang dirohanikan atau rohani yang menjasmani (Dwijarkara, 1989).
Dalam kenyataannya budi dan pekerti ada yang menjadi kebaikan dan ada yang menjadi kejahatan. Jadi, ada budi pekerti yang su atau baik; ada budi pekerti yang dur atau jahat.
Sifat-sifat manusia yang cenderung mengarah pada kejahatan, yaitu: sobong, kikir, cabul, iri, rakus, marah, malas, angkuh, cerewet, sok, pembantah, ingkar janji, rendah diri, pemurung, cepat tersinggung, egois, berlebih-lebihan, dan lain-lain (Sudarto dan Sudi Yatmono, 1994; 72).
Sifat-sifat yang cenderung mengarah pada budi pekerti luhur, yaitu: bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, tenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdi, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, kasih sayang, percaya diri, rela berkorban, rendah hari, sabar, setia, adil, hormat, tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tepat janji, terbuka, dan ulet (Edi Sedyawati, 1997)
Sesungguhnya, semua perilaku dasar dalam pendidikan budi pekerti tersebut dapat diajarkan melalui mata pelajaran Bahasa Jawa. Akan tetapi, bab-bab tertentu ada yang lebih tepat diintegrasikan pada mata pelajaran lain, misalnya Pendidikan Agama dan/ atau PPKn.




Budi Pekerti
1. Secara umum Budi Pekerti berarti moral dan kelakuan yang baik dalam menjalani kehidupan ini.Ini adalah tuntunan moral yang paling penting untuk orang Jawa tradisional. Budi Pekerti adalah induk dari segala etika ,tatakrama, tata susila, perilaku baik dalam pergaulan , pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Pertama-tama budi pekerti ditanamkan oleh orang tua dan keluarga dirumah, kemudian disekolah dan tentu saja oleh masyarakat secara langsung maupun tidak langsung.Pada saat ini dimana sendi-sendi kehidupan banyak yang goyah karena terjadinya erosi moral,budi pekerti masih relevan dan perlu direvitalisasi.Budi Pekerti yang mempunyai arti yang sangat jelas dan sederhana, yaitu : Perbuatan( Pekerti) yang dilandasi atau dilahirkan oleh Pikiran yang jernih dan baik ( Budi).Dengan definisi yang teramat gamblang dan sederhana dan tidak muluk-muluk, kita semua dalam menjalani kehidupan ini semestinya dengan mudah dan arif dapat menerima tuntunan budi pekerti.Budi pekerti untuk melakukan hal-hal yang patut, baik dan benar.Kalau kita berbudi pekerti, maka jalan kehidupan kita paling tidak tentu selamat, sehingga kita bisa berkiprah menuju ke kesuksesan hidup, kerukunan antar sesama dan berada dalam koridor perilaku yang baik.Sebaliknya, kalau kita melanggar prinsip-prinsip budi pekerti, maka kita akan mengalami hal-hal yang tidak nyaman, dari yang sifatnya ringan, seperti tidak disenangi/ dihormati orang lain, sampai yang berat seperti : melakukan pelanggaran hukum sehingga bisa dipidana.Esensi Budi Pekerti, secara tradisional mulai ditanamkan sejak masa kanak-kanak, baik dirumah maupun disekolah, kemudian berlanjut dalam kehidupan dimasyarakat.Dirumah dan keluargaSejak masa kecil dalam bimbingan orang tua, mulai ditanamkan pengertian baik dan benar seperti etika, tradisi lewat dongeng, dolanan/permainan anak-anak yang merupakan cerminan hidup bekerjasama dan berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan.Berperilaku yang baik dalam keluarga amat penting bagi pertumbuhan sikap anak selanjutnya. Dari kecil sudah terbiasa menghormat orang tua atau orang yang lebih tua, misalnya : jalan sedikit membungkuk jika berjalan didepan orang tua dan dengan sopan mengucap : nuwun sewu ( permisi), nderek langkung ( perkenankan lewat sini).Selain berperilaku halus dan sopan, juga berbahasa yang baik untuk menghormati sesama, apakah itu bahasa halus ( kromo) atau ngoko ( bahasa biasa). Bahasa Jawa yang bertingkat bukanlah hal yang rumit, karena unggah ungguh basa( penggunaan bahasa menurut tingkatnya) adalah sopan santun untuk menghormat orang lainPeduli LingkunganPendidikan yang mengarah kepada peduli dan kasih terhadap lingkungan dan alam, juga sudah dimulai sejak usia belia.Anak-anak diberi pengertian untuk tidak bersikap sewenang-wenang kepada binatang dan tanaman dan juga menjaga kebersihan alam, tidak merusak alam.Anak kecil yang dirumahnya punya binatang peliharaan seperti anjing, kucing, burung, selalu diberitahu oleh orang tuanya untuk merawat nya dengan baik, memberi makan yang teratur, dijaga kebersihannya, kandangnya juga bersih dan tidak boleh diperlakukan dengan sewenang-wenang dan justru harus dilindungi dan dikasihi.Tanaman dan pepohonan juga harus dirawat dengan baik, disiram setiap sore, kadang-kadang diberi pupuk, dijaga supaya tumbuh subur dan sehat dan cantik penampilannya ,sehingga enak dipandang.Tanaman yang dirawat akan membalas kebaikan kita, daunnya, , bunganya, buahnya, kayunya, akarnya, bisa memberi faedah yang berguna.Bumi tempat kita berpijak, juga harus dilindungi, diurus yang baik, jangan asal saja menggali-gali tanah ,kalau memang tidak ada tujuan yang bermanfaat.Sumber air juga harus dijaga, tidak boleh dikotori.Prinsipnya, kita harus dengan sadar dan sebaik-baiknya merawat, menggunakan dan mensyukuri semua pemberian alam danPencipta.Pendidikan formalSelain pendidikan non-formal yang berkembang dan berpengaruh positif, pendidikan formal tentu saja mempunyai peran sangat penting.Anak dididik supaya cerdas dan punya budi pekerti.Sejak ditaman bermain/Play group, TK,SD, anak diperkenankan dan dibiasakan bersosialisasi, ditanamkan etika, sopan santun, kebersihan, rasa kebersamaan, rasa kebersamaan dialam sebagai satu kesatuan kosmos, ditanamkan rasa solidaritas dan kasih sayang demi keselarasan, keseimbangan dan perdamaian.Tentu juga diajarkan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam tradisi dan adat istiadat.Dimasa penjajahan dulu, sekolah-sekolah pribumi seperti Taman Siswa, menanamkan pendidikan yang penuh dengan semangat juang dan nasionalisme, persatuan dan kesatuan dalam melawan penjajah.Etika PergaulanSebagai bangsa yang berbudaya, sebaiknya semua pihak menampilkan sikap yang santun dalam pergaulan, membuat orang lain senang, dihargai. Orang itu senang bila dihargai, disapa dengan kata-kata yang baik, termasuk wong cilik, orang ekonomi lemah.Wong cilik akan santun kepada orang yang menghargai mereka. Orang santun, meski derajatnya tinggi, tidak sombong, ini orang yang berbudaya.Orang yang berperilaku baik, berbahasa baik, berbudi baik, selain dihargai orang lain, secara pribadi juga untung, yaitu akan mengalami peningkatan taraf kejiwaannya, mengalami kemajuan batiniah.Tatakrama dan Tata SusilaTatakrama dan Tata Susila juga tak terlepas dari budi pekerti. Berlaku sopan, bertatakrama yang meliputi sikap badan, cara duduk, berbicara dll. Misalnya dengan orang tua berbahasa halus/kromo, dengan teman berbahasa ngoko. Bahasa Jawa memang unik, dengan mudah bisa menunjukkan sifat tatakrama seseorang.Menghormati orang tua, guru, pinisepuh adalah wajib, tetapi tidak berarti yang muda tidak dihormati. Hormat kepada orang lain itu satu keharusan.Itu kesemuanya termasuk dalam Tata Susila- etika moral, yang juga meliputi :Kembali ke Budi PekertiPada saat keprihatinan melanda kehidupan dinegeri tercinta ini dan itu sebab pokoknya adalah kemerosotan moral dan hukum yang sulit ditegakkan , kebenaran diplintir , rasa malu hilang entah kemana, mana yang baik mana yang buruk dikaburkan, tata susila tak diperhitungkan.Lalu dimana pula kejujuran?Yang lagi ngetrend pada saat ini adalah janji-janji, terutama janjinya para politikus. Ini katanya zaman krisis multi dimensi, kalau orang dulu bilang : Ini zaman edan !Dalam keadaan sulit seperti apapun, tentu ada jalan keluarnya, tidak semua orang bersifat jelek, tidak semua pemimpin lupa diri, ada masih anak bangsa yang berkwalitas, jujur, pandai, trampil, trengginas,berani hidup sederhana, dalam perilaku dan tindakannya didasari nurani dan berkah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang . Inilah anak bangsa, satria bangsa yang mumpuni dan akan mrantasi gawe, mengentaskan bangsa dan negara ini dari keterpurukan dan membawa kekehidupan yang lebih baik , sejahtera, aman, adil dan makmur.Kalau kita merenung dengan hening, berbicara dengan nurani, tiada sedikit keraguan bahwasanya Budi Pekerti yang sarat dengan ajaran luhur moral dan etika dan kepasrahan kepada Tuhan, merupakan resep mujarab supaya bangsa dan negara terlepas dari segala keruwetan yang dihadapi ( Ngudari ruwet rentenge bangsa lan negara ). Krisis yang dihadapi akan ditanggulangi dengan baik bila kita semua, terutama mereka yang menjadi pemimpin, priyayi, birokrat, dengan sadar dan mantap, melaksanakan semua tindakan dengan dasar budi pekerti.Budi Pekerti yang merupakan kearifan lokal, pada dasarnya mengandung nilai-nilai universal.Budi Pekerti akan membangkitkan kepribadian yang berkwalitas : tanggap ( peka), tatag ( tahan uji), dan tanggon ( dapat diandalkan).